Biasanya anime romance berorientasi pada perjalanan karakter hingga berhasil menjadi couple, namun anime satu ini malah berjalan di fase bagaimana kehidupan karakter setelah menikah. Selamat datang di komentari, dan mungkin sedikit refreksi, anime berjudul "Jiisan Baasan Wakageru (Grandpa and Grandma Turn Young Again)"
Sinopsis
Anime ini menceritakan tentang seseorang bernama Shouzou Saitou dan istrinya, Ino Saitou yang sudah menikah sekitar sekitar 60 tahun. Yap, tidak salah, 60 tahun. Mereka tidak bisa melakukan bulan madu karena keadaan mereka yang tidak sekaya itu dan juga karena kondisi mereka saat ini. Meskipun demikian, mereka tetap menjalani kehidupan mereka dengan penuh cinta dan menghabiskan waktu mereka dengan damai dengan menjadi petani apel di desa. Suatu hari mereka menemukan apel emas yang berbuah di pohon yang mereka tanam ketika menikah, dan mereka memakannya. Namun keesokan harinya fisik mereka berdua secara ajaib kembali menjadi muda. Dan mereka mencoba berbagai hal yang tidak bisa mereka lakukan ketika muda dulu, seperti jalan-jalan, bulan madu dan lainnya.
Plot & Story
Ketika pertama menonton mungkin kite merasa sedikit bingung karena dalam 1 episodenya terkadang tiap segmennya kadang terasa tidak nyambung, misal dari olahraga tiba-tiba berganti ke perkumpulan keluarga besar. Ini dapat dimaklumi karena ini adalah adaptasi dari strip manga, jadi satu episode mengadaptasi banyak chapter manga-nya.
Melihat dari story-nya, meskipun series ini tidak dilabeli sebagai Slice of Life, anime ini memiliki nuansa Slice of Life yang cukup kental, dari bagaimana keseharian kehidupan di desa yang sepi, berkebun apel bersama pasangan, berinteraksi dengan warga desa dan berbagai acaranya, sedikit masalah kecil seperti pencuri apel, bagaimana keluarga besar mereka yang sering mengunjungi si kakek-nenek ini, dan banyak lagi.
Yang menarik dari aspek supernatural disini, mereka tidak selalu berubah menjadi muda, tapi ada "trigger" dan "event" yang membuat mereka berganti-ganti menjadi muda dan kembali tua. Dan mereka berusaha mengeksplorasi fenomena itu juga terselip unsur komedi dan romansa di perjalanannya.
Komedi yang diberikan disini cukup ringan dan kebanyakan berpadu dengan genre-genre lain, misalnya si kakek nge-drift menggunakan mobil pickup, lalu ketika cucu mereka, Miko-chan, ingin mengambil si kakek karena terpana dengan tampang mudanya namun dilawan oleh si nenek, ada juga momen kocak ketika Ino-san dan Shouzou-kun tiba-tiba menjadi model dadakan untuk fotomodel pasangan.
Romansa di cerita ini, seperti ku-spill pada premis, cukup unik karena fokusnya bukan berputar di pasangan remaja atau dewasa, melainkan punya main-show di pasangan lanjut usia. Dan melihat pasangan tua ini melakukan hal-hal romantis membuat anime ini semakin manis, dan ini juga menawarkan pesan kalau romansa tidak hanya bisa terjadi/dilakukan oleh pasangan muda, dan malah romansa dari pasangan yang sudah matang ini bisa jadi lebih 'bergula' daripada pasangan muda. Di cerita ini kita bisa lihat bagaimana interaksi yang mungkin terlihat normal bagi kita, bisa terasa menyenangkan bila dilakukan bersama orang yang kita sayangi, seperti bagaimana mereka bekerja di kebun bersama, melakukan aktivitas rumah bersama, bahkan sesimpel berjalan ke toko kelontong. "Kebergulaan" ini bisa terasa impactful karena fokus yang diberikan bukanlah pada bagaimana membuat pasangan kita bisa bersandingan dengan kita, tetapi bagaimana mencoba mempertahankan kemesraan di tengah hubungan yang sudah masak dan dalam waktu yang sangat lama. So in summary, ini sangat berbeda dengan kebanyakan cerita romansa yang berputar pada target "menjadi pasangan" melainkan "mempertahankan pasangan", sehingga menjadi sebuah temuan jalur romansa yang baru bagiku. Disamping itu, progres romansa dari karakter-karakter sampingan, seperti sang cucu Mino-chan dengan si gigi tajam Shouta-kun lalu Shiori-chan dengan si-senpai-kedokteran Satoshi-kun.
Dan berbicara tentang romansa, di anime ini tidak hanya memperlihatkan bagaimana kehidupan pasangan yang sudah menikah saja, namun mereka juga meng-eksplore berbagai aktivitas/scene-scene romansa anak muda. Seperti bagaimana mereka berdua berbulan madu ke kota, pergi ke festival bersama, mengunjungi acara anak dan cucunya, si kakek yang melakukan "kabe-don" kepada si nenek, si nenek, Ino-san yang "cosplay" menggunakan seragam pelaut SMP dan menjadi pusat perhatian di festival sekolah, ada juga momen ketika Ino-san dan Shouzou-kun saling salah tingkah ketika menjadi model dadakan untuk fotomodel pasangan, bagaimana juga lawaknya si kakek, Shouzou-kun yang menjadi pusat perhatian karena ketampanan muka mudanya dan membuat Ino-san cemburu hahaha, dan banyak lagi. So secara simpel, anime ini mencoba subjek romansa yang "indie" (pasangan kakek-nenek) tapi dengan tetap memberikan sentuhan romansa "anak muda".
Meskipun demikian, dari semua cerita diatas, cerita ini tetap realistis memperlihatkan kekhawatiran manusia khususnya pasangan yang sudah tua, seperti bagaimana mereka yang mulai terbatasi oleh kemampuan fisiknya, fakta mereka sedang menuju kematian yang tidak dapat dipungkiri, bagaimana mereka memandang keluarga, pasangan, kematian dan kehidupan, bagaimana kalau salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu, bagaimana menyikapi diri mereka yang sudah tidak se-atraktif dulu dan kekahwatiran-kekhawatiran lain yang manusiawi, tidak memandang fisik mereka yang secara ajaib "terlihat muda" tersebut. Ada juga scene ketika bermain puisi bagaimana mereka mengingatkan kita tentang cinta & nostalgia, betapa singkatnya hidup kita dan bagaimana kita cherish kenyataan ini dengan kenangan.
Audiovisual
Untuk ukuran anime romansa yang tayang di tahun 2024, kualitas yang diberikan cukup standar. Mungkin yang kurang disadari adalah bagaimana efek visual dari background dan karakter yang seolah terlihat kurang nge-blend, yakni art karakter yang memiliki aksen & line tegas namun background-nya agak noisy. Namun setelah melihat karya-karya Studio Gekkou lainnya, seperti "Mayonaka Heart Tune" dan "There was a Cute Girl in the Hero's Party, so I Tried Confessing to Her" yang tayang di tahun selanjutnya, sepertinya style yang tidak nge-blend tadi memang disengaja oleh Studio Gekkou sebagai signature-nya. Lalu bagaimana mereka menempatkan comedical appearance dengan cukup frequent, terlebih ketika scene-scene komedi, itu dilakukan dengan tepat dan cocok. Sehingga mendukung impact komedi-nya dan di sisi lain juga membuat anime ini menjadi terasa relaxing.
Voice acting yang digunakan disini ketika kakek nenek ini kembali muda, mereka tidak menghilangkan karakter suara kakek-nenek sepenuhnya, namun masih menyisakan sedikit kesan "serak"-nya. Hal ini jadi salah satu detail yang kuapresiasi. Lagu opening yang digunakan "Kimi ga Ojiichan Atashi ga Obaachan" oleh Koresawa juga membawakan nuansa Slice of Life yang cukup terasa dan cocok dengan anime ini.
Ending
Ini cukup mixed-feeling menurutku. Aku awalnya cukup skeptis tentang bagaimana mereka akan mengakhiri story ini, mengingat bagaimana ketenangan dan kehangatan mereka diatas. Terlebih source manga-nya memiliki lebih dari 200 chapter. Namun setelah diperiksa chapter tersebut hanya terkumpul menjadi 8 volume dan ternyata memiliki format komik strip, terasa ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika Episode 9, ada scene yang berkata "kalau waktu itu tiba, aku akan pergi bersamamu", dan melihat bagaimana buildup tentang kekhawatiran mereka akan kematian di sebelum-sebelumnya membuat ini seperti tanda kalau sesuatu yang bitter akan terjadi. Tapi karena bagaimana mereka menyusun buildup, pengkondisian situasi dan konteks, pemilihan kata dan bagaimana mereka mengekspresikannya membuat kita seperti berada di perasaan sedih tapi juga tegar.
Dan di ending-nya, episode diawali dengan kehangatan keluarga besar yang berkumpul ditengah acara pergantian tahun. Kemudian di musim selanjutnya masuk ke scene yang kusebut "kesimpulan hidup" : diawali buildup konteks sedang beristirahat setelah bekerja di kebun mereka, si kakek Shouzou-kun dan si nenek Ine-san mengingat-ingat semua perjalanan hidup mereka, keluarga mereka sekarang, dan bagaimana masa depan keluarga ini, mereka pasti merasa khawatir namun menenangkan diri dengan "mereka akan baik-baik saja". Dan mungkin ini interpretasi pribadi mengenai scene final (episode 11 menit 20.46) karena ketika scene ini diperlihatkan dua kupu-kupu terbang menjauh dan art wajah dari wide-shot-scene itu tidak memberi senyum, mereka meninggalkan dunia ini dengan tenang, pergi bersama dibawah pohon yang mereka rawat dan besarkan bersama dengan keadaan saling bersandar dan berpegangan tangan. Sebuah penutup yang sangat menyesakkan dada, namun juga sangat indah dan menjadi impian banyak pasangan.
Di post-credit scene, diperlihatkan Minou-san & Shouta-kun yang akhirnya menjadi pasangan dan bekerja di kebun apel mengulangi kejadian di episode pertama, yakni melihat apel emas dan penasaran. Ini memberi tambahan impresi "hopeful" ke ending anime ini, sehingga tidak terlalu berlarut ke kesedihan tadi.
Sedikit Refleksi
Kita bisa lihat di anime ini bagaimana perjuangan dari sebuah hubungan bukanlah hanya dari bagaimana ketika berusaha meraih dan bersatu dengan kekasih kita, namun perjuangan yang sesungguhnya adalah bagaimana membuat hubungan yang sudah bersatu ini bisa terus maintain dan tetap erat hingga maut yang memisahkan. Terkadang, rasa sayang itu malah muncul dari kesederhanaan dan kebersamaan, tidak selalu harus dari kisah ala dongeng yang megah.
Dan ini juga men-trigger kita untuk mempertanyakan ulang, apakah ketika kita bermimpi untuk menjadi mudah kembali, apakah yang kita inginkan sebenarnya adalah kembali dan mengulang masa muda, menikmati hidup lebih lama, atau sekedar lari dari kematian. Di anime ini, manifestasi yang kudapatkan adalah andaikata kita kembali muda, itu bukan untuk memperpanjang kisah kita, melainkan menjadi katalis aktualisasi "do your life into the fullest".
Ini juga bisa menjadi refleksi, selama apapun hidup yang kita punya, sepanjang berapapun lifespan yang tersisa, kematian adalah hal yang tidak bisa kita pungkiri. Betapa singkatnya hidup manusia dan terulangnya waktu adalah sebuah keniscayaan. Kita sering berputar di pikiran bagaimana memperpanjang sisa umur kita, namun yang sebenarnya lebih impactful adalah bagaimana memanfaatkan sisa-sisa waktu ini untuk cherish, membuat berbagai kenangan berharga, sehingga sisa-sisa waktu hidup kita yang singkat ini terasa bermakna, dan kita bisa pergi dengan tenang tanpa penyesalan.
Bila anda adalah penikmat cerita sederhana yang ringan, comforty, wholesome, tapi juga bermakna dan simbolis, Jiisan Baasan Wakagaeru menjadi salah satu rekomendasi wajib, terutama yang mencari sudut pandang baru tentang apa sebenarnya yang kita cari dari kehidupan berpasangan.
