Mayonaka Heart Tune : Romansa Unik Mencari Gadis Dibalik Suara

Cman220314 Minggu, 05 April 2026 00:12
Voice Acting
Karakter Narsistik
Mayonaka Heart Tune

Informasi Karya

Mayonaka Heart Tune真夜中ハートチューンTune In to the Midnight Heart
Tv AnimeWinter, January 2026Comedy, Harem, Romance, School, ShounenGekkou
30857.3
Rating Reviewer
Opening & Ending : 8/10
Art : 7/10
Adaptation : 6/10
Character : 9/10
Story : 8/10

Bayangkan kalu jatuh cinta dengan seseorang, tapi hanya bisa mendengarkan suara dari orang tersebut. Tiap malam kau habiskan untuk mendengarkan siaran radionya, tanpa bisa melihatnya bahkan tidak ada petunjuk visual sama sekali. Namun suatu hari dia menyatakan selesai dari siarannya dan menghilang. Sebagai orang yang sedang jatuh cinta, apa yang kau lakukan, terlebih dengan 'klu' yang hanya berupa suara? Selamat datang di artikel komentari anime Mayonaka Heart Tune (Tune in to the Midnight Heart) Season 1

DISCLAIMER : Saya membaca manganya jauh terlebih dahulu sebelum ada adaptasi anime-nya, dan artikel ini akan sangat bias & kritis membandingkan antara sumbernya (manga) dengan adaptasinya (anime).

Plot, Cerita & Karakter

Anime ini memiliki premis yang sangat menarik: si MC, Yamabuki Arisu-kun, mencoba mencari orang yang dia jatuh cinta padanya lewat suara, dan ternyata di sekolahnya ada 4 cewek yang punya ciri-ciri yang menyerupai Apollo --inisial orang yang disukai si Yamabuki-kun ini-- dengan masing-masing impiannya, yakni si Announcer Uzuki Shinobu-san, si pengisi suara Himekawa Nene-san, si VTuber Kirino Iko-san, dan si penyanyi Inohana Rikka-san. Yamabuki-kun pun memulai perjalanannya mencari siapa sebenarnya cewek yang dia kejar tersebut dengan petunjuk-petunjuk yang dia ingat dari suara tadi.

Dari design character, Yamabuki-kun memiliki sifat yang sangat percaya diri, mungkin cenderung narsistik, tetapi dia tetap bisa dan kapabel dalam mencapai apa target yang dia tetapkan, sehingga sifat narsistik yang terlihat seperti kekurangannya seakan diseimbangkan oleh kerja kerasnya. Design character dari Mayonaka Heart Tune ini memang tipikal anime/manga harem, misalnya disini ada karakter yang normal, ada yang imut, ada yang tsundere, ada juga yang dewasa, dan memang masing-masing karakter memiliki bidang dan rintangannya sendiri-sendiri, dan nantinya si MC akan masuk dan membantu menyesaikan "arc" tiap heroine yang akan membuat tiap heroine jatuh cinta kepada Yamabuki-kun. Dari segi art karakternya di manga juga sangat terasa nuansa high-schooler-dewasa yang sedikit "ecchi", dan menurutku cukup merepresentasikan karakter fisik dan kelakukan dari anak SMA. Dari source manganya sendiri dia memiliki kualitas art yang bagus, gambar yang disajikan detail, dan gaya yang digunakan adalah style yang memberi kesan tegas dan bersih tapi elegan, dan memang mengedepankan estetika. Tidak heran manganya pernah menduduki peringkat jajaran atas manga dan masuk ke awards juga.

Adaptasi

Kita masuk ke adaptasi animenya, ini akan menuai kontroversi namun menurutku ini adalah adaptasi yang agak mengecewakan. Let me elaborate...

Pertama, dari segi adaptasi design character para heroine, jika di manga aku merasa mereka adalah tipikal high-schooler-dewasa yang mulai serius mengejar mimpi, di anime ini malah terasa seperti anak SMP-baru-masuk apalagi secara postur karakter di anime ini seperti terlihat lebih pendek dan "belia", seperti bagaimana tinggi tubuh, bentuk tubuh, juga beberapa "size" lain, sehingga aura yang kudapatkan bukan vibe "dewasa" seperti di manga melainkan menjadi agak "childish" secara fisik. Tapi memang kuakui dari segi design charcter si MC, Yamabuki-kun, anime ini berhasil mengadaptasikan bagaimana kesan MC yang "narsistik", ditambah pengisi suaranya yang mampu mengekspresikan bagaimana ke-narsistik-an si Yamabuki-kun dan bisa menambahkan impresi "bossy" dari si MC dengan tetap menunjukkan kesan "gigih" dan serius si MC dalam membantu para heroine.

Kedua, secara artstyle, karena di manga nya memiliki gaya yang detail dan (seperti kubilang tadi) bold/tegas, namun di anime tidak mampu menyandingi gayanya sedetail manga, bahkan tidak "diakali" dengan memberi sedikit sinematik misalnya ketika heroine nge-blush, sehingga anime ini jadi terasa seperti tipikal artstyle anime pasaran, jauh dari ekspektasi manga nya. Dari segi pewarnaan, aku rasa juga ini bisa dipoles lebih baik lagi, karena coloring saat ini aku rasa agak dull, atau memang style seperti itu yang mau dipakai, padahal di manga nya sendiri terdapat referensi panel di chapter awal yang berwarna, sehingga kesannya anime ini seolah anime mid tipikal yang tiap season-nya ada 6-7 judul, nothing special. Tapi mungkin ini karena artstyle manga yang sangat bagus sehingga pengadaptasiannya menjadi sangat riskan.

Ada beberapa scene yang menurutku mengecewakan, seperti di episode 12, di scene ketika Band Celestial manggung, setelah si Nanba-san dari Celestial menghancurkan permennya, di manga (chapter 31) digambarkan sangat megah, enerjik dan gila, namun di anime hanya diberi animasi menyanyi biasa. Dan terasa puncaknya ketika di episode 2 menit 08:52 ketika scene Rikka-san menyanyi, di anime malah disajikan dengan slide-down-gambar-PPT, padahal impresi yang diberikan di manga (chapter 3) adalah perasaan terkesima, tertegun dan "tersetrum" dengan pesonanya, ditambah penggunaan filter visual nostalgik di menit itu yang menurutku itu kurang cocok dengan impresi yang ada di manga.

Tetapi terdapat beberapa improvisasi yang kuapresiasi seperti bagaimana di episode 6 ditambahkan scene permainan unbalance tower yang tidak ada di manga (chapter 16) namun tetap cocok, daripada dipaksakan masuk ke arc selanjutnya tapi menjadi aneh karena terpotong episode nya.

Aku merasa episode 5 keatas sudah terasa perbaikan dan improvement dari segi visual dibandingan episode-episode awal, tetapi kekurangan yang terlanjur ada di episode awal cukup fatal bagi mereka yang sudah mengikuti manganya terlebih dahulu, sehingga kurang efektif menaikkan impresi kami terhadap anime ini. Di episode 10 aku merasa direksinya agak aneh, karena kualitas antar-scene nya terasa berbeda-beda sehingga jadinya dalam 1 episode itu terdapat scene yang bagus dan ada juga yang kurang, seolah yang mengerjakan tiap cut/scene nya memiliki standarasiasi kualitas yang berbeda-beda. Misalnya di menit awal setelah opening ketika Shinobu-san dan Nene-san berurutan berjalan di lorong, grading warna ketika shoot karakter dari belakang dan dari depan terasa perbedaannya.

Dari sisi theme song, kuakui lagu openingnya menolong anime ini. Diisi oleh Hoshimachi Suisei, talent VTuber dari Hololive, dia berhasil mencuri perhatian penonton, dengan gaya lagu J-Pop dengan sentuhan rock, ditambah bagaimana opening sequence-nya yang cukup sering menampilkan teks dengan font style khas dari Mayonaka Heart Tune, mampu membangunkan rasa nostalgic dan antusias para pembaca manganya. Untuk lagu endingnya, diisi oleh Soala, it suits well, dengan nuansa melodrama khas closing theme anime, tetapi di-enhance dengan penggunaan nuansa ballad tapi dengan vokal yang kuat. Kita kembali ke animenya, dengan beberapa scene yang perlu lagu, terutama ketika arc Rikka-san, secara vokal menurutku cukup bagus, meskipun iringan gitarnya biasa saja dengan teknik strumming/genjreng dan aku menyadari di beberapa bagian memang memainkan teknik fingerstyle, meskipun kadang kurasa agak kurang nge-blend antara instrumen dengan vokalnya, tapi ini sangat dimaklumi karena secara fundamental ini memang bukan anime musik.

Terlepas dari semua kekurangan itu, secara cerita, didukung dengan premis yang menarik, cerita di anime berjalan menarik, seperti bagaimana "kesalnya" dan perjalanan Yamabuki-kun mencari-cari siapa cewek dibalik "Apollo" dari 4 orang heroine ini , bagaimana para heroine kadang "menjahili" si MC ketika dia membantu mereka, dan banyak lagi. Dan menariknya menurutku, aku masih tidak punya "klu" siapakah sosok "Apollo" sebenarnya meskipun sudah diberi petunjuk lebih berupa suara, berbeda dengan manga yang hanya teks percakapan.

Dari segi romansa, bagaimana afeksi terbentuk dari interaksi Yamabuki-kun di tiap arc heroine cukup manis, dan memang mungkin agak sedikit terasa seperti tipikal cerita romansa tetapi masih bisa dinikmati, seperti bagaimana kecemburuan Nene-san ketika Iko-san berusaha dan hampir mencium Yamabuki-kun di episode 8, bagaimana Nene-san dan Iko-san secara tidak langsung mencium MC di masing-masing arc-nya, bagaimana keseriusan si MC dalam mendorong & mendukung mimpi dari tiap heroine di masing-masing arc-nya yang membuat para heroine jatuh cinta ke Yamabuki-kun, bagaimana penggambaran ketika karakter blushing, bagaimana Yamabuki-kun sendirian menggendong Shinobu-san ketika lomba kavaleri, dan banyak lainnya.

Secara komedi, kita diperlihatkan cukup banyak style chibi & funny karakter, seperti ketika karakter kaget dan matanya digambarkan besar putih dengan titik kecil hitam mata, atau misal ketika karakter Iko-san digambarkan seperti kucing, dari segi cerita juga misalnya bagaimana percakapan mereka kadang mengandung komedi tersebut cukup menghibur. Lalu ada juga ketika Yamabuki-san memergoki para heroine sedang berganti pakaian, bukannya para heroine yang marah malah disini Yamabuki-kun yang marah, scene ini juga unik dan lucu, ditambah bagaimana ekspresi suaranya. Lalu bagaimana kita bisa senyum-senyum sendiri ketika Nene-san cemburu & panik sendiri ketika melihat Yamabuki-kun dan Iko-san bermesraan, bagaimana lawaknya interaksi Lemon-sensei yang berusaha mengalihkan perhatian Samejima-sensei ketika festival sekolah, dan banyak lainnya.

Ending

Ending season pertama ini cukup gantung menurutku, karena ceritanya berakhir di arc Rikka-san, sehingga ceritanya terkesan tidak selesai. Padahal, secara keutuhan cerita bila melihat dari sumbernya, terdapat solusi yang lebih resolutif misalnya ditutup di scene festival musim panas ketika para heroine berusaha "menyatakan cinta" ke Yamabuki-kun. Namun mungkin memang jika dibuat seperti itu akan memakan durasi yang lebih lama sekitar 1-2 episode tambahan.

Meskipun adaptasi ini sedikit mengecewakan, karena kualitas anime yang tidak bisa menyandingi kualitas manga-nya dan sedikit minor di sisi cerita (ending yang gantung), anime ini patut dicoba kalau ingin mendapatkan cerita dari premis yang unik terutama berhubungan dengan suara, dan bagaimana keunggulan dari segi akting karakter, terutama kalau ingin melihat karakter yang narsistik dan bossy tapi berdedikasi, berinteraksi dengan para heroine dengan karakter dan impiannya masing-masing.