Ini adalah momen tidak biasa karena aku membaca sebuah manga yang bukan selera preferensiku. Dan inilah, manga berjudul Happiness oleh Oshimi Shuzo yang diterbitkan di Bessatsu Shounen Magazine tahun 2015.
Artstyle & Visual
Di segmen ini aku ingin mengapresiasi art yang digunakan lumayan detail, meskipun sebenarya bisa dipoles sedikit lagi, atau memang style penggambaran mangaka-nya, Oshimi Shuuzou memang punya signature seperti itu. Penggambaran yang diganakan itu seolah gambar yang memang didistorsi/disengaja dibuat kasar, yang nanti kita coba kuak & bahas di segmen selanjutnya ini. Penggambaran distorsi visual yang terlihat ini seperti lukisan Van Gogh, dimana jarang sekali aku lihat selama ini membaca banyak manga sehingga juga patut diapresiasi.
Secara tema vampir, manga ini cukup memuaskan fantasi vampire enthusiast, dari bagaimana art penggambarannya, behavior vampirnya, juga beberapa ceritanya yang akan kita bahas selanjutnya.
Plot & Story
Secara plot, cerita ini menggambarkan tentang seseorang yang terpaksa menjadi vampir dan mau tidak mau harus menjalani kehidupannya seperti vampir Tetapi sebenarnya dia ingin menjalani kehidupan sebagai manusia, salah satu penekanannnya ada di chapter-chapter awal yang secara ringkas bermaksud "maka hiduplah seperti manusia".
Sebenarnya secara alur, cerita ini agak kurang optimal dalam menunjukkan siapa main character (MC) nya, karena di awal hingga pertengahan, Makoto-kun, si vampire-by-korban tadi lah yang menjadi sorot utama cerita. Namun ketika masuk ke arc timeskip dewasa, karakter Makoto-kun bahkan tidak ditunjukan, hanya bayang-bayang Yukiko-san, si crush dari Makoto-kun, yang ingin menyelesaikan masalah Makoto-kun tersebut. Sehingga experience-ku melihat "role" MC berganti dari Makoto-kun ke Yukiko-san dengan Sudou-kun sebagai pendukungnya.
Dari segi drama secara umum, memang kuakui manga ini berhasil membuat pembacanya merasakan adrenalin yang naik-turun, ditambah beberapa scene dramatis misalnya pada pertemuan kembali antar karakter atau rahasia yang terungkap. Adrenalin ini sukses membuat saya membaca seluruh 50 chapternya dalam sekali duduk hahaha.
Namun dari segi drama romansa, cerita ini menurutku kurang kuat dalam memberi buildup bagaimana si Makoto-kun dan Nora-san --vampir yang menyebabkan Makoto-kun menjadi vampir-- menjadi pasangan. Selain karena Nora-san lah yang membuat Makoto-kun menjadi vampir, ini juga karena bangaimana Makoto-kun membuat pengakuan/confess yang berkata bahwa Nora-san lah sosok penyemangatnya untuk hidup. Justru highlight romansa yang terasa lebih kuat ada pada bagaimana perjalanan dan buildup antara Yukiko-kun dengan Makoto-kun, seperti bagaimana Yukiko-san menemai Makoto-kun di sekolah, bagaimana Yukiko-kun lah yang menjadi satu-satunya orang normal yang mengetahui bahwa Makoto-kun bukanlah manusia lagi melainkan vampir, bagaimana Yukiko-san dewasa yang terus menerus mencari Makoto-kun meskipun membayakan dirinya, bahkan ketika Yukiko-san telah berkeluarga dengan Sudou-kun, si Yukiko-san lansia masih tetap rutin ditemui oleh Makoto-kun yang menjadi eternal. Mungkin ini karena memang genre dari manga ini bukan fokus ke romansa namun ke supernatural vampir dan fantasinya.
Meaning & Pesan
Berbicara tentang pesan, yang aku tangkap adalah bagaimana ketika kita sudah jatuh kedalam suatu keadaan apalagi dengan kegilaannya, kita tidak akan bisa mengubah apapun selain menjalaninya. Entah apakah dengan menjalaninya akan juga bisa mengubah keadaan itu, atau malah membuat kita menjadi terbiasa dengan keadaan itu. Seperti si MC, Makoto-kun, yang jatuh ke dunia vampir, dengan segenap kegilaan dunianya, dan meskipun dia berusaha untuk tetap berjuang menjalani kehidupannya seperti biasa, seperti menyembunyikan rahasia identitas sebagai vampir, atau juga meminta Nora-san untuk hidup seperti manusia, tapi hal itu sudah tidak bisa dia dapatkan lagi, dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti jalan si Nora-san menjadi seorang vampir.
Selain itu, melanjutkan pembahasan diatas, terkadang apa yang kita perjuangkan belum tentu akan memberikan akhir yang kita inginkan. Kita dapat lihat di cerita ini bagaimana pengorbanan totalitas dari Yukiko-san dalam memperjuangkan Makoto-kun, namun pada akhirnya Yukiko-san harus merelakan semua perjuangan itu dengan berpasangan dengan Sudou-san hingga membentuk keuarga besar yang normal dan damai.
Namun pesan lain yang juga ingin saya highlight, yaitu meskipun kita telah merelakan hal yang kita perjuangkan tersebut, kita tetap boleh dan bisa untuk mengenang kenangan tersebut tanpa harus melupakannya. Seperti bagaimana si Yukiko-san yang seumur hidupnya dihabiskan untuk memperjuangkan si Makoto-kun, meskipun akhirnya dia berkeluarga dengan Sudou-kun, bahkan sudah memiliki cucu, dia masih sering dikunjungi oleh Makoto-kun, meskipun itu hanya sebatas pelipur kenangan apa yang telah mereka lalui berdua.
Sehingga manga ini juga mencoba menawarkan pesan kepada kita untuk berdamai dengan apa yang telah terjadi meskipun hasil dari apa yang kita perjuangkan tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Tidak lupa juga untuk tidak melupakan kenangan saat kebersamaannya tersebut.
Ending
Ending manga ini bisa dibilang adalah ending dengan jenis penutup / resolusi. Semua karakter memiliki akhir yang jelas dan damai. Semua meninggal dengan kisah yang terselesaikan. Sedangkan si Makoto-kun berhasil menghidupkan kembali si Nora-san dan melangkah dalam kehidupan eternal bersama, tanpa melupakan kenangan, tanpa melupakan orang-orang disekelilingnya dan apa yang mereka lalui selama ini. Ini tergambar banget di final chapter.
Filosofi "Happiness"
Dan satu lagi yang bisa dibahas dan sangat membekas bagi saya, apa sebenarnya "happiness" yang author coba sampaikan disini? apakah kebersamaan hingga akhir? apakah keadaan yang selalu sesuai dengan ekspektasi kita? apakah momen ketika memperjuangkan sesuatu, terlepas dari hasilnya sesuai harapan kita atau tidak? atau justru hanya keinginan kecil untuk bisa menjalani kehidupan "manusia" secara normal dan damai?
Sang author di manga ini sangat berhasil menggoyahkan idealisme tentang "happiness" yang selama ini kita percaya, mendistrupsi keyakinan kita tentang bagaimana kita memandang makna "happiness" yang kita coba kejar selama ini, dengan memberikan banyak representasi "happiness" di berbagai karakter maupun scene ceritanya.
Demografi Labelling
Ini dilabeli sebagai shounen, tapi dengan art yang cukup gore, beberapa scene yang cukup eksplisit & gila, dan pesan yang ingin disampaikan, termasuk filosofisme akan "happiness" tadi, membuat manga ini menurutku seharusnya layak mendapat label seinen.
Sebagai penutup, manga ini berhasil membuat kita berpikir dan mempertanyakan kembali definisi dari "kebahagiaan" ditengah kegilaan kehidupan ini, dan apakah definisi itu yang memang kita cari selama ini.
